Rabu, 11 Januari 2012

Makalah Kebudayaan Betawi


            


SEJARAH KEBUDAYAAN BETAWI


A.    Latar Belakang

            Salah satu pendapat menyatakan bahwa kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis ini belum mengakar kuat. Dalam kehidupan sehari – harinya, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat asal tinggal mereka, sperti Orang Glodok, Orang Senen, atau Orang Tanah Abang. Diitupan dari Prof Dr Parsudi Suparlan – Antropolog Universitas Indonesia.
            Menurut salah satu tokoh masyarakat Betawi berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya
mencakup masyarakat campuran benteng Batavia, tetapi juga mencakup penduduk di luar benteng Batavia tersebut yang biasa disebut dengan masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut telah berbahasa melayu yang biasa digunakan oleh masyarakat Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional kita.
Pengakuan terhadap orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni “Hindia Belanda”, baru muncul pada tahun 1923. Saat Husni Thamrin , tokoh masyarakat Betawi mendirikan “Perkoempoelan Kaoem Betawi”. Baru pada waktu itu segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.
Tidak lah salah jika banyak kebudayaan Indonesia yang lahir dari masyarakat Betawi, ini dikarnakan ke-aneka ragaman yang dimiliki oleh masyarakat Betawi ini. Tetapi sangat lah di sayangkan bahwa masyarakat Betawi saat ini kurang bahkan tidak mengenali lebih dalam kebudayaan asli yang diturunkan oleh dari nenek moyang mereka sendiri. Dan sangat lah memperihatinkan jika masyarakat Betawi ini tidak mencintai, karna jika mereka tidak mencintai kebudayaan mereka sendiri tidak lah menutup kemungkinan kebudayaan asli masyarakat Betawi itu sendiri.
            Sehingga berdasarkan latar belakang di atas, maka kami tertarik untuk membuat makalah yang berjudul “SEJARAH KEBUDAYAAN BETAWI”.





B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan judul makalah yang kita ambil, rumusan masalah yang menjadi fokus dalam pembahasan kita kali ini adalah :
B.1 Bagaimana sejarah terbentuknya Etnis dan Kebudayaan Betawi ?
B.2 Kebudayaan apa saja yang dimiliki oleh etnis Betawi dan bagaimana kondisinya saat ini ?

C.   Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberi pengetahuan kepada pembaca secara mendasar tentang sejarah terbentuknya Kebudayaan Betawi. Dalam makalah ini kami juga ingin menjelaskan secara mendalam tetnatng Kebudayaan asli Masyarakat Betawi.

D.   Pembahasan

D.1. Pengetian Betawi

            Betawi berasal dari kata nama Jakarta dahulu pada saat masa Hindia Belanda, yaitu “BATAVIA”.

D.2. Pengertian Etnis Betawi

            Etnis Betawi berasal dari hasil perkawinan antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta

D.3, Sejarah lahirnya Etnis Betawi

Lahirnya Etnis Betawi  adalah melalui adanya perpaduan berbagai kelompok etnis lain, seperti orang Jawa, Bali, Sunda, Makassar, Ambon, Bugis, dan Melayu serta suku – suku pendatang, seperti India, Eropa, India,dan Tionghoa.

D.2. Sejarah lahirnya kebudayaan Betawi

Sejarah terbentuknya kebudayaan Betawi berawal pada abad ke-16 orang Sunda menjadi mayoritas dinegara kita. Selain itu, terdapat pusat perdagangan dan pelaut asing dari pesisir utara jawa yang memudahkan terkenalnya kota Jakarta yang dahulu bernama kota Batavia. Dan pengaruh suku bangsa asing tampak jelas dalam busana pengantin suku Betawi yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab dan kebudayaan Tiongkok, berbagai nama tempat di Jakarta pun mempunyai nama – namanya sendiri ; Kampung Bali, kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar, dan juga kampung Bugis.
            Pada sensus tahun 1930 kategori masyarakat Betawi menjadi mayoritas penduduk kota Batavia dengan jumlah sebanyak 776.953 jiwa.
            Kebudayaan Betawi terus berkembang dari masa ke masa dengan ciri – ciri kebudayaan yang semakin lama lebih mobile, sehingga mudah dibedakan dari kelompok etnis – etnis yang lain. Namun perubahan itu tidak banyak mengubah unsur – unsur kebudayaan aslinya.
            Bagi masyarakat Betawi sendiri segala yang tumbuh dan berkembang kehidupan mereka dirasakan kebudayaan itu sebagai kebudayaan milik masyarakat Betawi seutuhnya, tanpa mepertimbangkan dari mana asal mula terbentuknya kebudayaan itu sendiri, jadi tidaklah mustahil bila bentuk kesenian Betawi sering menunjukan persamaan dengan kesenian daerah atau bangsa lain.
            Kebanyakan kebudayaan Betawi juga tumbuh dengan sendirinya dengan kesederhanaan masyarakat Betawi sendiri, oleh karna itu kebudayaan Betawi sering juga digolongkan sebagai kebudayaan rakyat.
            Hal yang membuat kebudayaan bisa diterima oleh banyak pihak juga karna sifat kebudayaan Betawi itu sendiri, yaitu sifat yang membeda – bedakan golongan.

D.3. Seni dan Kebudayaan Yang Dimilik Oleh Etnis Betawi

            D.3.1.Bahasa
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.
Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.
Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi. Dialek Betawi sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu dialek Betawi tengah dan dialek Betawi pinggir. Dialek Betawi tengah umumnya berbunyi "é" sedangkan dialek Betawi pinggir adalah "a". Dialek Betawi pusat atau tengah seringkali dianggap sebagai dialek Betawi sejati, karena berasal dari tempat bermulanya kota Jakarta, yakni daerah perkampungan Betawi di sekitar Jakarta Kota, Sawah Besar, Tugu, Cilincing, Kemayoran, Senen, Kramat, hingga batas paling selatan di Meester (Jatinegara). Dialek Betawi pinggiran mulai dari Jatinegara ke Selatan, Condet, Jagakarsa, Depok, Rawa Belong, Ciputat hingga ke pinggir selatan hingga Jawa Barat. Contoh penutur dialek Betawi tengah adalah Benyamin S., Ida Royani dan Aminah Cendrakasih, karena mereka memang berasal dari daerah Kemayoran dan Kramat Sentiong. Sedangkan contoh penutur dialek Betawi pinggiran adalah Mandra dan Pak Tile. Contoh paling jelas adalah saat mereka mengucapkan kenape/kenapa'' (mengapa). Dialek Betawi tengah jelas menyebutkan "é", sedangkan Betawi pinggir bernada "a" keras mati seperti "ain" mati dalam cara baca mengaji Al Quran.

            D.3.2. Seni Musik
                        Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni musik, yaitu :
            D.3.2.1. Rebana.
            Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei,Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh.
Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama.

D.3.2.2. gambang Kromong.
Gambang kromong (atau ditulis gambang keromong) adalah sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan. Sebutan gambang kromong diambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong. Awal mula terbentuknya orkes gambang kromong tidak lepas dari seorang pemimpin komunitas Tionghoa yang diangkat Belanda (kapitan Cina) bernama Nie Hoe Kong (masa jabatan 1736-1740).
Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu, manggarawan atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh pencon). Tangga nada yang digunakan dalam gambang kromong adalah tangga nada pentatonik Cina, yang sering disebut salendro Cina atau salendro mandalaungan. Instrumen pada gambang kromong terdiri atas gambangm kromo, gong, gendang, suling, kecrek dan sukong, tehyan, atau kongahyan sebagai pembawa melodi.
Orkes gambang kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa tampak padaalat-alat musik gesek yaitu sukong, tehyan, dan kongahyan. Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendaharaan lagu-lagunya. Di samping lagu-lagu yang menunjukkan sifat pribumi, seperti lagu-lagu Dalem (Klasik) berjudul: Centeh Manis Berdiri, Mas Nona, Gula Ganting, Semar Gunem, Gula Ganting, Tanjung Burung, Kula Nun Salah, dan Mawar Tumpah dan sebagainya, dan lagu-lagu Sayur (Pop) berjudul: Jali – jali, Stambul,Centeh Manis, Surilang, Persi, Balo-balo, Akang Haji, Renggong Buyut, Jepret Payung, Kramat Karem, Onde-onde, Gelatik Ngunguk, Lenggang Kangkung, Sirih Kuning dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Tionghoa, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya, seperti Kong Ji Liok, Sip Pat Mo, Poa Si Li Tan, Peh Pan Tau, Cit No Sha, Ma Cun Tay, Cu Te Pan, Cay Cu Teng, Cay Cu Siu dan sebagainya.
Lagu-lagu yang dibawakan pada musik gambang kromong adalah lagu-lagu yang isinya bersifat humor, penuh gembira, dan kadangkala bersifat ejekan atau sindiran. Pembawaan lagunya dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuan sebagai lawannya.
Gambang kromong merupakan musik Betawi yang paling merata penyebarannya di wilayah budaya Betawi, baik di wilayah DKI Jakarta sendiri maupun di daerah sekitarnya (Jabotabek). Jika terdapat lebih banyak penduduk peranakan Tionghoa dalam masyarakat Betawi setempat, terdapat lebih banyak pula grup-grup orkes gambang kromong. Di Jakarta Utara dan Jakarta Barat, misalnya, terdapat lebih banyak jumlah grup gambang kromong dibandingkan dengan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Dewasa ini juga terdapat istilah "gambang kromong kombinasi”. Gambang kromong kombinasi adalah orkes gambang kromong yang alat-alatnya ditambah atau dikombinasikan dengan alat-alat musik Barat modern seperti gitar melodis, bas, gitar , organ, saksofon, drum, dan sebagainya, yang mengakibatkan terjadinya perubahan dari pentatonik menjadi diatonik tanpa tanpa terasa mengganggu. Hal tersebut tidak mengurangi kekhasan suara gambang kromong sendiri, dan lagu-lagu yang dimainkan berlangsung secara wajar dan tidak dipaksakan.

            D.3.2. Seni Drama.
         Seni drama tradisional Betawi antara lain Lenong. Pementasan lakon tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton.
Lenong adalah teater tradisional Betawi. Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat – alat musik. Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau kini bahasa Indonesia) dialek Betawi.
Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti "dinas" atau "resmi"), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.
Kisah yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas oleh tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat. Sementara itu, contoh kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam.
Pada perkembangannya, lenong preman lebih populer dan berkembang dibandingkan lenong denes.

            D.3.3. Masakan Khas Betawi
               D.3.3.1. Nasi ulam Betawi
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR72CwMfTNO137Kcw9vDYsQN1OTDPZoFC5cgEZvCi-Xx469xs4EKwSeiringperkembangan zaman, tak hanya teknologi saja yang semakin maju. Namun unsur lainnya,   seperti kuliner turut berkembang. Kuliner di Indonesia mulai bergeser mengikuti perkembangan budaya.
            Salah satu kuliner Indonesia yang ikut terkikis oleh perkembangan zaman ialah makanan Betawi.
 
            “Pergeseran rasa dan konten untuk makanan kemudian adanya permintaan pasar, serta kebutuhan makanan dulu dan zaman sekarang yang sudah berbeda,” kata Indra Sutisna, pakar masyarakat Betawi.
            Menurut Indra, pergeseran atau penyimpangan boleh terjadi, namun jangan sampai menghilangkan keaslian budaya Betawi.
            “Seperti misalnya roti buaya, kalau dulu roti buaya itu khasnya ada rasa tawar, akan tetapi sekarang banyak rasa dan bisa dimakan dengan minuman. Padahal zaman dulu roti buaya digunakan untuk acara adat, tapi sekarang sudah dijual bentuk kecil-kecil. Itu sih boleh saja dilakukan namun saya cuma minta bentuk asli dalam pengolahannya juga jangan berubah, cuma itu saja, kalau dibiarkan perlahan keaslian dari budaya Betawi akan menghilang,” jelasnya.
            Indra turut memahami bila pergeseran budaya secara perlahan mulai mengikis keaslian rasanya, karena dalam budaya tidak ada hukum yang melarangnya.
            “Perubahan budaya tidak bisa dibatasi, apalagi kuliner karena tidak ada polisi budaya. Budaya pun tidak statis, kalau kaku maka tidak bisa menyeimbangi budaya,” imbuhnya.
            Sebisa mungkin pihaknya juga tetap menjaga keaslian rasa dalam hal proses pengolahan, meski secara perlahan kuliner Betawi sudah mulai terpengaruh daerah luar.
            “Lebih banyak cara penyajian atau pengemasan, pembungkusannya harus asli. Cara pembuatannya tetap alami, meskipun ada perubahan zaman, dan itu tetap kita pertahankan,” tutupnya.

          D.3.3.2 Kerak Telor.
Kerak telor adalah makanan asli daerah Jakarta (Betawi), dengan bahan-bahan beras ketan putih, telur ayam, ebi (udang kering yang diasinkan) yang disangrai kering ditambah bawang goreng, lalu diberi bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam, dan gula pasir.
           
D.3.4. Rumah Adat Betawi
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS3iv91JGWnC2BPRGig0TfFEWpt7grD7lbOxlw-0Ce-HB9Lcu9cxSr93ASalah satu jenis rumah adat Betawi adalah Rumah Bapang atau sering disebut rumah kebaya. Bentuknya sangat simpel dan sederhana dengan bentuk dasar kotak. Layaknya rumah tinggal, Rumah Bapang juga memiliki ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dapur, dan dengan tambahan teras.
            Selain Rumah Bapang, ada juga Rumah Gudang.Rumah adat betawi ini berbentuk persegi panjang yang memanjang dari depan ke belakang. Atap rumahnya tampak seperti pelana kuda atau perisai, dan di bagian muka rumah terdapat atap kecil yang berfungsi sebagai penahan tempias hujan atau cahaya matahari.
Secara keseluruhan, Rumah Betawi berstruktur rangka kayu atau bambu, sementara alasnya berupa tanah yang diberi lantai tegel atau semen. Dalam kebiasaan sehari-hari, masyarakat Betawi umumnya membuat teras rumah yang cukup luas sebagai tempat menerima tamu. Mungkin jika Anda masih ingat sinetron Si Doel Anak Sekolahan, keluarga Si Doel juga menempatkan kursi tamu di salah satu sisi teras, dan sebuah bale-bale untuk bersantai di sisi lainnya.

            D.3.5. Baju Adat Suku Betawi.
   D.3.5.1. Pakaian sehari – hari.      
            Pakaian Sehari – hari untuk laki – laki :
1.     Baju Sadariah, bentuknya sama perti baju koko pada  umunya hanya biasanya berwarna putih.
2.     Celana Batik. Celana batik yang dikenakan adalah celana kolor batik panjang, dengan warna batik yang tidak terlalu ramai.
3.     Skolor batik panjang, dengan rung pelekat. Kain pelekat ini bentuknya seperti selendang yang ditempatkan pada pundak atau dielempangkan di leher.
4.     Peci. Peci yang digunakan berwarna hitam dan berbahan beludru.

Pakaian sehari – hari untuk wanita :
1.     Baju kurung berlengan pendek. Baju kurung yang dikenakan memiliki lengan pendek, tak jarang ditambahi saku di depannya dengan warna – warna mencolok.
2.     Kain batik. Kain sarung battik yang digunakan oleh kaum wanita adat betawi biasanya bercorak geometrik dengan warna – warna cerah untuk dipadukan dengan baju kurung yang dikenakan.
3.     Kerudung. Kerudung yang dikenakan berupa selendang yang dikenakan pada kepala para Perempan Betawi. Warnanya serasi dengan warna baju kurung yang dikenakan.


D.3.5.1. Pakaian Pengain.
Pakaian Pengantin Laki-laki
           Pakaian pengantin laki-laki Betawi banyak dipengaruhi oleh berbagai adat, antara lain adat Arab, Cina, Melayu, Barat. Pakaian adat Betawi yang dipergunakan pada pernikahan  adat Betawi laki-laki disebut Dandanan Care Haji. Pakaian pengantin laki-laki ini meliputi jubah dan tutup kepala.
           Jubah terbuat dari bahan beludru berwarna cerah. Jubah bagian dalamnya terbuat dari kain berwarna putih yang halus. Sedangkan tutup kepala terbuat dari sorban yang disebut alpie. Sebagai pelengkap digunakan selendang yang bermotif benang emas atau manik-manik yang warnanya cerah. Agar serasi pengantin laki-laki pernikahan adat Betawi menggunakan sepatu pantopel.

            Pakaian Pangantin Perempuan
           Pengantin perempuan dalam pernikahan adat Betawi mempergunakan pakaian adat Betawi yang Rias besar Dandanan Care None Pengantin Cine. Baju yang dikenakan blus bergaya cina berbahan satin yang berwarna cerah. Bawahannya menggunakan rok yang disebut kun yang berwarna gelap dengan model duyung. Warna yang sering digunakan adalah hitam atau merah hati.
           Sebagai pelengkap bagian kepala dikenakan kembang goyang bermotif  burung hong dengan sanggul palsu, dilengkapai cadar di bagian wajah. Pada bagian sanggul dihiasi juga dengan bunga melati yang disebut roonje dan sisir. Perhiasan lain yang digunakan kalung lebar, gelang listring, dan hiasan teratai manik-manik dikalungkan dibagian dada, serta selop dengan model perahu sebagai alas kaki.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

selamat datang

semoga anda terhibur setelah melihat dan membaca blog ini

berkreasilah sesukamu

berkreasilah sesukamu